Video slots dollar 728x90

RISET PASAR EKSPOR DAN TEKNIK PEMASARAN EKSPOR

Untuk menunjang keberhasilan menembus pasar/memasarkan produk atau jasa di negara tujuan ekspor, perlu didukung oleh riset pasar ekspor. Riset pasar ekspor adalah kegiatan menyelidiki pasar suatu negara guna memperoleh informasi yang berhubungan dengan negara konsumen dan produk yang akan diekspor, terutama yang menyangkut:

Negara-negara mana yang mempunyai potensi terbaik untuk produk-produk yang akan dipasarkan;


Jenis/tipe produk yang digemari;

Berapa banyak produk yang dapat dipasarkan atau berapa besar potensi pasar di negara tujuan serta prospek di masa mendatang;

Pola konsumsi konsumen di negara tujuan ekspor;

Perbaikan-perbaikan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan penjualan;

Penetapan harga produk yang akan dipasarkan di negara tujuan;

Biaya untuk mencapai target penjualan (transportasi, bea masuk dan lain-lain);


Pesaing-pesaing (siapa, berapa harga jualnya);


Strategi apa yang harus ditempuh dalam memasarkan produk;


Peraturan-peraturan perdagangan di negara bersangkutan;


Prospek;


Dan lain-lain.



I. Kegunaan Riset Pasar Ekspor
Kegunaan riset pasar adalah untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam pemasaran produk, sehingga dengan informasi tersebut, penjualan atau pemasaran produk dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.


II. Jenis Riset Pasar Ekspor
Riset pasar ekspor dikelompokkan dalam tiga bagian utama, yaitu:

Riset untuk mengetahui potensi suatu pasar, yaitu seberapa besar potensi permintaan pasar terhadap suatu produk tertentu di negara sasaran.  Disamping mengetahui besarnya permintaan, hal-hal lain yang harus diketahui adalah pola permintaan dan prospek perkembangannya, pesaing-pesaing (dari negara-negara mana saja dan perusahaan-perusahaan apa saja yang berasal dari Indonesia), struktur harga dan peraturan-peraturan yang berlaku di negara pengimpor dan peraturan perdagangan dalam negeri sendiri.

Riset khusus mengenai produk, yaitu menentukan kriteria atau elemen dari produk ekspor, seperti alasan pemakaian produk, budaya, kondisi produk terhadap perubahan iklim (seandainya diekspor ke negara yang mengalami 4 musim), warna, mutu/standar, ukuran, rasa, bahan, disain, spesifikasi teknis, cara menggunakan/memakai produk, kemasan, dan lain-lain.

Riset mengenai praktek pemasaran ekspor, yaitu untuk mengetahui bauran pemasaran (produk, harga, distribusi dan promosi). Dalam hal ini yang perlu dikaji adalah:

Biaya dan resiko transportasi, kecepatan pengiriman, keandalan sistim pengiriman, persyaratan pengepakan;

Harga ekspor produk pesaing dan keistimewaan produknya serta jaminan pasokannya;

Distributor, waktu penyerahan produk, potongan harga dari setiap penyalur, fasilitas yang diberikan kepada distributor;

Layanan purna jual: masa garansi, suku cadang, tenaga operator;

Promosi: sarana yang digunakan, anggaran yang dibutuhkan, cara/sistim penyampaian iklan.


III. Atribut Pemasaran
Pemasaran ekspor yang menyangkut dimensi produk yang ditawarkan tetap berdasarkan pada pemanfaatan produk dalam negeri yang disesuaikan dengan kebutuhan/keinginan selera pasar luar negeri, baik dalam dimensi fisik (fungsi, bentuk, kemasan, merek, dan lain-lain) maupun dimensi non-fisik (harga dan service/pelayanan).

Dimensi fisik
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam dimensi fisik antara lain adalah:

Adaptasi produk diperlukan untuk melayani kebutuhan dan keinginan konsumen di pasar sasaran dengan memperhatikan selera, tingkat daya beli, peraturan pemerintah, dan lain-lain;

Kemasan sebagai bagian dari produk yang berfungsi untuk melindungi produk dari pengaruh iklim yang berbeda, transportasi, handling (cara penanganan barang), dan lain-lain perlu disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Sedangkan kemasan sebagai alat promosi perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar setempat (selera konsumen). Dalam hal label, yang perlu diperhatikan adalah masalah bahasa, ketentuan/peraturan perdagangan negara tujuan ekspor.

Dimensi non-fisik
Dimensi non-fisik yang penting dari produk (yang menjadi dasar kontrak jual-beli) adalah ketetapan harga produk. Pada dasarnya, harga adalah biaya ditambah laba pada berbagai tingkat  kegiatan produksi. Dalam pemasaran ekspor biasanya dipakai  penetapan harga "cost-plus atau markup" biaya produksi/pengadaan ditambah laba yang diinginkan, karena pemasaran ekspor awal lebih bersifat reaktif daripada pro-aktif yang didasarkan pada eskalasi (struktur) harga yang dibuat:

Struktur biaya/produksi harus mencerminkan biaya tetap dan biaya tidak tetap agar dapat diketahui pengaruhnya terhadap penyesuaian yang diperlukan atas harga yang diminta pembeli;

Struktur biaya pemasaran harus mencerminkan balas jasa atas segala kegiatan pemasaran yang dilakukan dan atas balas jasa dan biaya pada saluran distribusi/pemasaran yang dipergunakan.
Begitu juga tanpa mengenal perilaku konsumen suatu negara akan sulit bagi eksportir untuk menyusun program atau rencana pemasaran. Oleh karena itu, sebelum melakukan pemasaran ekspor terlebih dulu diketahui kesamaan dan perbedaan antar budaya guna menentukan perilaku konsumen. Di lain pihak perilaku konsumen juga terkait dengan segmentasi pasar sasaran yang terdiri dari negara yang berpenghasilan rendah (dunia ketiga), negara yang berpenghasilan menengah ke bawah (negara berkembang), negara berpenghasilan menengah ke atas (negara industri baru), dan negara  berpenghasilan tinggi (negara maju). Secara umum, segmentasi pasar dibagi dalam dua bagian utama, yaitu: Segmentasi demografis (jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendapatan/income, pendidikan, dan lain-lain). Segmentasi psikografis (pengelompokkan orang dalam arti sikap, nilai-nilai yang dianut dan gaya hidup).

kembali ke menu ekonomi